Alasan Sering Stalking Akun Medsos Mantan, Bisa Jadi Kecanduan

infokeluargasehat.com – Alasan Sering Stalking Akun Medsos Mantan, Bisa Jadi Kecanduan. Meski hubunga sudah berakhir, tak terhitung orang yang masih getol stalking media sosial mantan. Meski ini tidak merupakan hal yang keliru terkecuali ditunaikan secukupnya, menurut web site Bustle, ini artinya terkecuali Kamu amat kerap stalking mantan:

1. Kecanduan

“Stalking Merupakan tidak benar satu bentuk kecanduan,” ujar antropolog hayati Helen Fisher. “Faktanya, mayoritas orang bahagia stalking seseorang yang meninggalkan kami. Tetapi, kami miliki impuls kontrol, dan kami bukan melakukannya.”
Bersama dengan demikian, stalking tidak sekadar hasrat untuk mencaritahu; kurangnya kontrol impuls-lah yang sebabkan Kamu melakukannya.

2. Semakin Kerap Stalking, Semakin Terpengaruh

“Ketika ditinggalkan, yang mengingatkan Kamu akan orang ini tidak sekadar fotonya. Lagu, buku, acara Tv, apa pun yang membuat keinginan intens ini,” ucap Fisher.

Ketika menyaksikan gambar mantan, platform otak bisa terpicu, dan seketika tersebut juga Kamu idamkan melihatnya kembali.

3. Stalking Mampu Saja Sehat

“Bagi mayoritas orang, ini merupakan proses yang lumayan normal. Ini mampu menolong seseorang untuk move on berasal dari interaksi jaman lalunya jikalau ditunaikan secukupnya,” tutur profesor psikologi Dr. Tara Marshall Berasal dari Brunel University.

4. Gelisah

“Seseorang yang punya anxious attachment—perasaan bukan kondusif yang dirasakan oleh seseorang dikarenakan takut kehilangan ataupun implikasi kerap merasa tidak cukup dihargai—yang tinggi cenderung merasa dirinya bukan layak untuk meraih cinta,” tutur Marshall.

Ini Memicu harga dirinya rendah dan berpikir “Untuk apa seseorang menjalin interaksi bersama saya?”

5. Belum Dapat Move On

“Orang yang puas stalking lebih cenderung menyimpan perasaan negatif pada mantan pacarnya—cemburu, kebencian, kekecewaan, pengkhianatan, kehilangan,” kata Marshall. “Dia juga lebih cenderung masih menyimpan rasa pada mantan pacarnya.”

Sulit Berhenti

Alasan Sering Stalking Akun Medsos Mantan, Bisa Jadi Kecanduan

meski ini merupakan hal yang bukan baik, sulit untuk berhenti kecuali Kamu telah terbiasa.

“Terlalu sulit untuk berhenti stalking media sosial mantan, dikarenakan hate-following (mengikuti seseorang di media sosial yang sebabkan Kamu merasa marah atau cemburu dan bukan sanggup berhenti mengikutinya) seseorang sanggup mengaktifkan bagian eksklusif berasal dari otaknya yang serupa layaknya jatuh cinta, yaitu putamen,” ujar spesialis kecemasan dan pemilik Compassionate Counseling St. Louis Kelsey Torgerson Dunn, Msw, Lcsw.

Suatu belajar di University College London menemukan bahwa sirkuit kebencian mencakup dua bagian otak yang ditemukan di sub-korteks, yaitu putamen dan insula, ucap torgerson.

Putamen merupakan bagian otak yang berhubungan bersama penghinaan dan rasa jijik, dan juga terlibat di dalam platform motorik yang merupakan bagian otak yang mengontrol aksi atau gerakan.

Kala tersebut, insula terlibat di dalam respons rangsangan yang menyedihkan, ujar Torgerson.

Menurut neurobiolog dan kepala peneliti Profesor Semir Zeki, jaringan yang melibatkan wilayah putamen dan insula hampir identik bersama yang diaktifkan oleh gairah, interaksi romantis, dan cinta. Oleh karena tersebut, stalking seseorang layaknya mantan sanggup jadi norma terhadap taraf neurologis.

Menjadi Kebiasaan

semakin kerap Kamu Stalking, semakin ini terasa alami. Terkecuali Kamu mengecek instagram mantan tiap kali teringat padanya, ini akan jadi norma.

“Norma sulit untuk dipatahkan, terutama jikalau norma itu memperkuat perasaan Kamu melalui cara eksklusif” ujar Torgerson. Lebih-lebih jikalau ini tidak perasaan puas.

“Jikalau Kamu mendambakan berhenti laksanakan norma ini namun bukan sanggup, maka Kamu akan merasa lebih buruk pada diri sendiri dan juga apa yang dijalankan,” tambahnya.

Stalking Merusak kemampuan untuk move on dan memaksa Kamu konsisten memikirkan interaksi era lalu, alih-alih menemukan interaksi yang baru. Ini juga bisa mengganggu gambaran diri, karena Kamu akan mulai membandingkan apa yang dilihat bersama dengan diri Kamu sendiri.

“Kecuali Kamu dambakan melakukannya, akui bahwa hal itu merupakan dorongan wajar yang mampu dimengerti,” ucap Torgerson.

Walaupun demikian, luangkan pas untuk memikirkan apa yang mendasari tindakan itu. lantas, cari mengerti apakah Kamu mengidamkan mendengarkan pikiran itu dan mengecek media sosialnya atau memilih untuk laksanakan hal lain.

Cari Kesibukan Lainanda mampu meng-unfollow akun mantan dan lakukan hal lain yang lebih berguna misalnya jalan-jalan sejenak untuk pengaruhi norma stalking.

“Semakin kerap Kamu memilih kesibukan pengganti, desakan itu akan semakin melemah,” kata Torgerson. “Kamu melatih ulang otak Kamu.”

Didalam proses ini, yakinkan diri Kamu bahwa ini merupakan sesuatu yang normal agar bukan mesti menyalahkan diri sendiri.
Konselor interaksi dan mak comblang Channa Bromly mengatakan bahwa menghindari media sosial untuk waktu selagi juga ide yang bagus, serupa halnya bersama dengan meng-unfriend atau memblokir mantan yang konsisten di-stalking.

Tidak cuman tersebut, buang seluruh hal yang mengingatkan Kamu padanya.

Kamu juga dapat bercerita terhadap teman terdekat atau keluarga berkenaan persoalan ini. Membiarkan diri Kamu jalankan sesuatu yang mengasyikkan, atau bertanya ke diri sendiri dan mencaritahu solusinya juga mampu menolong.

Bromsley juga mengingatkan bahwa Kamu mampu melacak pertolongan profesional kapanpun. Melepaskan obsesi bisa menunjang Kamu menemukan cinta sejati.

Bukan peduli bagaimana perasaan Kamu sementara ini, Bromsley mengatakan bahwa Kamu mampu move on. Rasa sakit yang dirasakan juga akan hilang sejalan berjalannya pas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *