Obsesi Sehat dan “Endorsement” Kesehatan

Infokeluarga.com – Obsesi Sehat dan “Endorsement” Kesehatan. Kesadaran untuk hidup sehat masyarakat Indonesia selama pandemi Covid-19 menunjukkan grafik peningkatan yang mengesankan. Sesuai dengan temuan survei Alvara Research 2021, salah satunya kesadaran penggunaan produk sanitasi naik sebesar 64,20 persen. Demikian pula dengan tren peningkatan konsumsi multivitamin yang naik hingga 51,60 persen.

Bila berkaca dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan 2018, peningkatan kesadaran sehat ini tampaknya memiliki makna yang cukup berarti. Dari hasil Riskesdas ditemukan bahwa kurangnya konsumsi makanan sehat pada masyarakat terutama penduduk usia di atas 5 tahun meningkat dari 93,5% pada 2013 menjadi 95,5% pada 2018. Ini artinya, peningkatan kesadaran hidup sehat dari masyarakat saat ini, dengan kebiasaan mengonsumsi makanan sehat bagi tubuh perlahan mulai membaik dengan sendirinya.

Transformasi circle life masyarakat yang cenderung lebih peduli dengan kesehatan tentu saja sulit untuk dilepaskan dari kondisi pandemi Covid-19. Selain faktor akibat pandemi, tuntutan konsep hidup sehat ini memang didukung oleh new culture yang digandrungi oleh banyak masyarakat milenial. Hasil studi terbaru menemukan bahwa isu wellbeing and health bagi kalangan milenial merupakan prioritas utama dalam kehidupan (53%) setelah keluarga (79%). Kelompok milenial memaknai standar hidup sehat sebagai sebuah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi.

Namun demikian, peningkatan kesadaran hidup sehat ini ternyata tidak selalu disertai oleh pengetahuan yang tepat dan cara yang benar dari masyarakat. Penerapan pola hidup sehat belakangan seringkali hanya memanfaatkan informasi kesehatan seadanya di web terlebih dengan menjadikan underwriting produk kesehatan sebagai rujukan pengetahuan kesehatan masyarakat.

Kebiasaan ini akan membuat dunia kesehatan dan segala prinsipnya akan semakin jauh dari sifat dasarnya yaitu saintifik dan ilmiah. Masyarakat Indonesia akan jauh lebih mudah percaya kepada ramuan obat abal yang tidak memiliki keabsahan medis ketimbang menggunakan terapi kesehatan yang berdasar pada sains dan terbukti secara klinis. Jauh lebih memprihatinkan dari itu, masyarakat lebih mudah percaya dengan powerhouse publik pada produk kesehatan dibanding percaya kepada sains itu sendiri.

Membudayakan Sains

Obsesi Sehat dan "Endorsement" Kesehatan

Contoh withering dekat dengan kita, tentang fenomena bagaimana wujud sains tidak berarti apa dalam dunia kesehatan adalah polemik metode terapi kesehatan cuci otak atau Intra-Arterial Heparin Flushing (IAHF) dari mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Purtanto. Para saintis yang menilai bahwa Terawan telah menyalahi banyak prinsip ilmiah di dalam metode tersebut. Terapi kesehatan dari Terawan berdasarkan seluruh jurnal ilmiah dan penelitan yang dilakukan ternyata tidak sesuai dengan design proof based medication (EBM).

Anggapan seputar tentang tidak ilmiahnya metode cuci otak dari Terawan merupakan satu masalah yang besar. Tetapi, masalah yang jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana peran sejumlah pejabat publik dalam mengkampanyekan terapi cuci otak tersebut. Kita dapat melihat bahwa testimoni dari publik figur ini terkesan menutup pandangan banyak orang dalam melihat sisi ilmiah dari sebuah terapi medis. Kalau sudah demikian, preferensi terapi medis orang akan ditentukan oleh seberapa banyak testimoni dari seorang publik figur tanpa mempertimbangkan risiko di baliknya.

Bagi saya, menjadi tidak etis apabila ukuran kebenaran dari suatu terapi medis hanya didasarkan pada setiap underwriting dari pejabat publik. Seharusnya logika berpikirnya kebenaran medis adalah kebenaran yang hanya bersumber dari pendapat pakar kesehatan yang berbasis pada riset ilmiah. Prinsip dasar yang harus dipahami semua temuan atau inovasi kesehatan adalah keseluruhan dari hasil penelusuran sains. Sains dan kesehatan merupakan sebuah bagian utuh yang tidak terpisah.

Dengan prinsip itu, kebenaran ilmiah dalam kesehatan adalah hal yang tidak bisa ditukar dengan apapun apalagi hanya dengan sebuah testimoni pejabat ataupun powerhouse mana joke. Sebab testimoni kesehatan dengan model seperti ini hanya dapat menciptakan misinformasi dalam masyarakat dan juga turut mengerdilkan kredibilitas ilmuwan. Hari ini bisa dikatakan, ilmuwan kesehatan seolah kehilangan posisi dan tidak memiliki pengaruh yang signifikan.

Lantaran kondisi tersebut, mengedepankan sikap ilmiah dalam memahami informasi kesehatan atau sebuah pelayanan kesehatan merupakan upaya awal yang bisa dilakukan untuk mendudukkan sains pada tempatnya. Menegakkan sains setegak-tegaknya bertujuan demi mengembalikan marwah sains di dalam dunia kesehatan kita.

Tanpa dilandasi sains, bisa jadi semua informasi kesehatan yang kita terima hanyalah sebatas informasi warung kopi yang penuh dengan spekulasi tetapi nihil dengan pengetahuan ilmiah. Sikap ilmiah harus dijunjung tinggi dengan senantiasa mengutamakan kebenaran ilmiah dalam memilih serta memutuskan sesuatu yang berguna bagi kesehatan tubuh kita.

Urgensi Literasi Kesehatan

Masalah pokok mengenai kekeliruan dan sikap abai masyarakat terhadap sains kesehatan sebenarnya memiliki kaitan yang erat dengan tingkat kemampuan literasi kesehatan kita. Masalah tingkat literasi kesehatan yang rendah dalam situasi tertentu menyumbang pengaruh negatif yang sangat besar terhadap perkembangan dunia kesehatan kita.

Information dari Badan Pusat Statistik misalnya melaporkan bahwa sebanyak 17 persen masyarakat Indonesia atau sekitar 44.9 juta orang memiliki keyakinan bahwa Covid-19 adalah penyakit fiktif. Mereka lebih percaya bahwa Covid-19 adalah penyakit konspirasi yang telah direkayasa sedemikian rupa. Situasi kekeliruan masyarakat seperti ini bisa menjadi salah satu gambaran wajah tentang literasi kesehatan masyarakat.

Penelitian yang dilakukan oleh Muhamad Alfan dkk (2020) menemukan bahwa literasi kesehatan menjadi sebuah instrumen penentu dalam membentuk kebiasaan sehat yang benar dari seseorang. Terdapat hubungan yang signifikan antara literasi kesehatan dengan kebiasaan hidup sehat dari seseorang. Literasi kesehatan dalam konteks ini dapat diartikan sebagai kemampuan kognitif seseorang dalam mengartikan, memahami, dan menerapkan sebuah informasi kesehatan dalam kehidupannya.

Kita bisa memulai penanaman budaya literasi kesehatan ini sejak di level masyarakat, keluarga maupun yang withering tinggi yaitu lembaga pendidikan. Kita perlu mengajarkan tentang pentingnya literasi kesehatan sehingga semua orang dapat memahami pesan penting terkait sumber asal informasi kesehatan, menelusuri keaslian informasi kesehatan, serta membuat perbandingan informasi kesehatan sekaligus mentradisikan riset atas sebuah informasi kesehatan.

Dengan usaha untuk memberikan pemahaman literasi kesehatan ini, ke depan keinginan untuk hidup sehat dari setiap orang dapat dilakukan secara benar dan sesuai dengan kaidah ilmiah yang berlaku.

Hidup sehat yang baik adalah hidup sehat yang didukung oleh pemahaman konsep yang benar dan akurat. Kalau kondisi literasi kesehatan kita semakin membaik dan hal itu didukung oleh paradigma sains yang baik pula dari masyarakat, saya percaya bahwa risiko buruk terhadap kesehatan masyarakat akan semakin kecil dan hal itu akan mendatangkan manfaat yang besar bagi pengembangan ilmu kesehatan masyarakat.

Muktamar Umakaapa dosen Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Musamus, Merauke, Papua

Leave a Reply

Your email address will not be published.